Jurnal

24 October 2026 · 1rtwq

Klik WA itu bukan konversi.

Dashboard bilang 200 konversi, kasir bilang omset segitu-segitu aja. Yang salah bukan Google-nya, tapi apa yang kita suruh dia kejar.

Klik WA itu bukan konversi.

jujur aja ya, salah satu momen paling awkward kerja jadi orang iklan itu pas dashboard bilang konversi naik, tapi pemilik bisnisnya bilang “kok omset gini-gini aja ya?”

Dan dua-duanya nggak bohong. Dashboard-nya bener, kliennya juga bener. Yang salah itu definisi “konversi”-nya.

Konversi mikro vs konversi makro

Kebanyakan akun Google Ads yang gue liat (termasuk yang dipegang agency) ngitung klik tombol WhatsApp sebagai konversi. Masuk akal sih, gampang dipasang lewat GTM, angkanya cepet naik, report-nya enak diliat.

Masalahnya, klik WA itu baru niat. Orangnya bisa aja:

  • cuma nanya harga terus ngilang
  • salah pencet
  • kompetitor yang lagi ngecek harga lo
  • beneran beli (ini yang kita mau)

Google nggak bisa bedain keempatnya. Buat dia, semuanya sama: konversi. Jadi waktu lo pake strategi bidding otomatis kayak Maksimalkan Konversi, Google bakal dengan semangat nyariin lebih banyak orang yang… suka klik WA. Bukan yang suka beli.

Itu yang gue sebut konversi mikro. Yang beneran ngaruh ke bisnis itu konversi makro: prospek yang serius, dan order yang ada nilai rupiahnya.

Terus caranya gimana?

Intinya, lo harus ngasih tau Google mana klik yang jadi duit. Caranya lewat offline conversion import:

  1. Tangkep GCLID (ID klik dari Google) waktu orang dateng dari iklan.
  2. Bawa GCLID itu sampe ke chat WhatsApp, misalnya disisipin sebagai kode di pesan.
  3. Pas CS tau orang itu serius atau udah transfer, tandain: “Potensi” atau “Order + nilai”.
  4. Kirim balik data itu ke Google Ads (bisa lewat Google Sheets atau upload terjadwal).

Abis itu, lo bisa pindahin target bidding dari “klik WA” ke “Order”. Google mulai belajar nyari orang yang mirip pembeli, bukan yang mirip tukang klik.

Btw, GCLID itu cuma berlaku 90 hari. Lewat dari itu, Google nolak datanya. Jadi jangan numpuk dulu baru diupload sebulan sekali ya.

Yang paling susah justru bukan teknisnya

Bagian teknisnya bisa dipelajari seminggu. Yang susah: ngajak klien (dan CS-nya) mau nyatet. Tiap chat masuk harus ditandain, tiap transfer harus diisi nominalnya. Kalau CS-nya males, datanya bolong, dan Google belajar dari data bolong.

Makanya sekarang gue selalu nanya di awal: “Mau nggak tiap minggu share data WA, order, sama omset?” Kalau jawabannya nggak mau, ya mending jujur dari awal kalau optimasinya bakal setengah buta.

Rumus yang perlu lo inget

ROAS = omset ÷ biaya iklan.

Spend Rp1 juta, omset Rp5 juta, ROAS-nya 5x. Kedengerannya simpel, tapi lo cuma bisa ngitung ini kalau omsetnya kecatet. Kalau nggak, yang lo punya cuma “biaya per klik WA”, dan itu bukan angka yang bikin pemilik bisnis tidur nyenyak.

Semoga kepake ya. Kalau lo lagi pegang akun klien yang konversinya masih klik WA doang, coba deh obrolin ini minggu depan.


Kalau lo mau lanjut:

Masih mikir-mikir? Tanya admin dulu aja.

Soal jadwal, cara bayar, atau program mana yang pas buat lo, semua bisa ditanyain lewat WhatsApp. Santai aja.